REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Kemerdekaan kini tidak lagi hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga kebebasan dalam menguasai ruang baru: dunia digital. Semangat ini diangkat Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Yogyakarta sebagai Kampus Digital Kreatif melalui Seminar Kemerdekaan Digital yang akan digelar pada Kamis (4/9/2025) di Yogyatorium Dagadu Djokdja, mendatang.
Mengusung tema 'Harmonizing Creativity and Innovation Based on Heritage', kegiatan ini berfokus pada bagaimana kemerdekaan digital dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal Yogyakarta.
Vadlya Maarif, Kepala Kampus UBSI kampus Yogyakarta mengungkapkan Yogyakarta sebagai kota budaya memiliki warisan seni, tradisi, dan kearifan lokal yang dapat diperkuat melalui teknologi digital. Digitalisasi diyakini mampu menghadirkan peluang baru, mulai dari mendokumentasikan seni tari klasik, memasarkan batik hingga menembus pasar global, hingga menghidupkan kembali kearifan lokal melalui platform interaktif.
“Kemerdekaan digital adalah kesempatan emas untuk menghubungkan masa lalu dan masa depan. Melalui digitalisasi, budaya lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diberi ruang untuk berkembang di panggung global. Namun, tentu saja, kemerdekaan digital harus diiringi dengan literasi yang memadai agar masyarakat tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pemain aktif dalam transformasi digital,” ungkapnya dalam rilis yang diterima, Sabtu (30/8/2025).
Seminar ini juga menghadirkan Keynote Speaker G.K.R. Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata DIY, yang akan membahas sinergi antara promosi budaya dengan penguatan ekosistem digital di Yogyakarta.
Diskusi semakin kaya dengan hadirnya narasumber lintas bidang, di antaranya Isnielma Nurwulan (Head of Creative Marketing & Innovation HeHa Group) yang akan membawakan materi tentang strategi inovasi kreatif di era digital. Mia Argianti (Direktur Dagadu) akan mengulas perjalanan brand lokal legendaris dalam memadukan budaya dan strategi pemasaran modern, serta Ani Wijayanti (Dekan FEB UBSI) akan menyampaikan perspektif akademik terkait praktik implementasi kemerdekaan digital di sektor ekonomi dan pariwisata.
Dengan hadirnya berbagai narasumber, seminar ini diharapkan menjadi wadah refleksi dan inspirasi. Refleksi, karena masyarakat diajak kembali merenungi makna kemerdekaan di era modern. Inspirasi, karena dari kegiatan ini diharapkan lahir ide-ide kreatif untuk mengintegrasikan inovasi teknologi dengan identitas budaya bangsa.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga pusat pertemuan gagasan tentang masa depan bangsa. Semoga semangat kemerdekaan digital mampu menjadi fondasi bagi generasi muda untuk terus berkreasi, berinovasi, dan membawa budaya Indonesia mendunia,” kata Vadlya.